Sabtu, 12 November 2011

What do you think: Mimpi dan Cita-cita nyata

Oke, post dibawah ini bener-bener pertama kali aku pajang didepan umum.
Terinspirasi dari ajang: Indonesia Mencari Bakat beberapa waktu lalu. Dan aku mulai terpikirkan hal ini. Memikirkan bagaimana kalau aku ternyata salah satunya? Dan inilah aku. Aku yang menjadi Gelis.
But this isn't me. Ini cuma seandainya aja kok.
Just comment, and enjoy! :)

Mimpi dan Cita-cita Nyata


Mungkin tak ada yang mengenalku. Namun, aku tetap berlari, sekalipun banyak pasang mata menatapku tajam. Bibir mereka mencibir. Dan itu hak mereka menilaiku nol. Ini memang jalanku, dan ini langkahku. Dengan mantap, aku terus berlari, dan menunjukan. Aku tak seperti yang mereka pikir.
Kesempatan itu tiba. Sebuah poster nampak begitu jelas didepan mata. Warnanya mencolok, dan melekat dipapan pengumuman sekolah. Membuatku tak sekedar melirik. Bahkan aku tak berkedip dibuatnya.

AJANG PENCARIAN BAKAT TAHUN 2010.
TUNJUKIN BAKAT KAMU SEKARANG JUGA, HADIAHNYA PULUHAN JUTA!!!

Aku terpaku hingga aku menyadari bahwa telah lima menit berlalu. Dan masih kubaca berulang persyaratannya. Ternyata ini sungguh nyata. Saatnya tiba. Sekalipun perlahan aku meragu. Bisakah aku mengikuti audisi itu dengan modal 0?
***
Pendaftaran terakhir besok, dan audisi dimulai lusa. Tapi aku masih begitu ragu. Apa aku layak? Terlebih, tak ada yang mau berbagi ilmu denganku. Bukan mereka pelit, tapi masih belum kutemukan siapakah “mereka” itu?
Aku masih mematut diri pada kaca batinku. Hm, pasti peserta lain udah mempersiapkan diri buat lusa. Tapi aku? Masih saja kembali terpaku ditempat yang berbeda. Memikirkan baik buruknya. Ditambah dengan tidak adanya dukungan, membuat niat ini luntur seketika.
Tapi, aku tak mau padam secepat itu. Peluang terakhir. Aku Shalat Istikharah, dan memulai memohon petunjuk. Semoga itu apapun hasilnya nanti, itu yang terbaik.
***
            Kini aku temukan jawabnya. Melalui mimpi. Sekalipun seringkali mimpi itu semu, tapi untuk hal yang satu ini aku tak mau menyemukannya begitu saja. Get Real, Gel! You can!, batinku. Dan aku mulai mempersiapkan. Data diri dan fotokopi Kartu Pelajar telah sempurna.
            Aku kini berdiri didepan meja pendaftaran. Masih kuingat pamitku pada Mama, “Aku main kerumah teman, ya!” dan aku sedikit lega, disini tidak mencatumkan syarat dimana harus ada persetujuan sekolah maupun orang tua. Kalaupun itu perlu, aku bisa memaksa Bik Yum untuk menandatanganinya. Karena aku yakin, mama maupun papa tak mungkin peduli.
            Ya, mereka benci puisi, dan sastra lebih tepatnya. Padahal, dua hal itulah yang mengalir didarahku. Papa mendukung mama, supaya aku menjadi designer pakaian melanjutkan butik mama. Tapi, aku menolak. Dan mereka masih berusaha mencoba agar aku mau.
            “Besok audisi jam 8 ya Mbak.” ujar Mbak yang mengurus pendaftaran
            “Iya mbak, terima kasih.”
            “Sama-sama Mbak Gelisha.”
            Dan kini aku pulang dengan langkah was was. Apa yang membuatku nekat mndaftar kali ini, karena aku yakin aku tidak mungkin lolos ke babak selanjutnya. Bayangkan saja, aku mendaftar dihari terakhir saja, nomorku 478. Entah berapa peseta yang diambil nantinya.
            Sekalipun aku kemari dengan sendirinya. Aku menyadari disini aku bersama Tuhan. Dia yang menunjukan dan membisikanku untuk mengikutinya. Dan aku sebagai umat pun menurut.
***
            Jam 12:15. Aku mulai lemas dan lapar. Naskah puisi telah kupersiapkan dan telah kubaca berturut-turut hingga aku hafal. Namun aku masih belum juga diijinkan masuk. Jam berapa ini selesai ya?
            “Peserta nomor 478. Gelisha Andini.”
            “Iya.”
Dagdigdug. Aku merutuk diriku sendiri. Tadi minta segera dipanggil, kok sekarang aku malah pingin pulang ya? Haduh, Istighfar.
            “Selamat pagi Mbak.”
            “Selamat pagi pak, bu.”
            “Oke silahkan.”
Kulihat mereka menatap profilku. Bakat: Baca Puisi. Itu yang membuat kening mereka berkerut. Sesaat aku meragu. Istighfar kembali. Dan kumulai membaca.
***
            “AKU LOLOS?” orang-orang yang bergerumbul dipapan pengumuman langsung kaget dan melihatku.
Aku sendiri kaget. Bingung. Tak percaya. Inikah maksud Tuhan mengijinkanku ikut? Bagaimana dengan mama? Papa? Dan sekolah? Sebentar lagi aku ujian. Dan aku harus ke Jakarta mengikuti seleksi selanjutnya.
            Jangan bilang aku berhenti. Cuma sampai disini. Jangan. Ini impianku. Aku tak mau. Aku telah melangkah senekat ini, dan menghasilkan angka yang sama: NOL? Tidak, aku harus jujur pada mama. Aku harus lanjutkan.
            “Assalamuallaikum.”
            “Wallaikumsallam.” jawab mama. Aku lihat setumpuk kertas dihadapnya. Didalamnya terdapat model-model baju. Pasti kreasi mama.
            “Ma, aku boleh ngobrol? Mama sibuk ya? Engg, nggak jadi deh. Nanti aja.”
            “Eits, apaan sih? Kamu mau bilang apa?”
Badanku berkeringat dingin. Bagai berdiri digang sempit, kini aku terhimpit. Ya Allah, tolong hamba. Apa aku harus ngomong ya? Kalau tidak, kapan lagi?
            “Anu ma, Aku...”
            “Hm?” mama masih menatapku dibalik kacamata minusnya.
            “Aku ikut audisi dan lolos ma. Ma.. maaf... aku janji lain kali aku bakal ijin mama. Aku gak tau kalo ternyata aku bakal lolos.”
            “Sebentar, sebentar, mengapa kamu minta maaf? Mama bangga melihatmu lolos. Memang audisi apa yang kamu ikuti?” ujar mama terlihat semangat. Lomba matematika? Lomba design gaun malam? Mungkin itu yang mama kira.
            Aku serahkan poster yang kutemukan kemarin. Mama mengangguk. Kembali aku ber-Istighfar. Ya Allah, hamba pasrah. Mama mau marahin, gak papa deh. Karena ini jauh berbeda dari yang mama minta.
            “Memangnya apa bakat kamu?” tanya mama tiba-tiba.
Aku tahu mama tak  bermaksud menyindir, karena memang selama ini aku tak memiliki prestasi yang berarti. Apalagi aku berani mengikuti lomba ini. Tapi, ini juga diluar dugaan. Aku sendiri saja tak percaya, aku lolos.
            “Membaca puisi.” jawabku polos dan berat.
            Kulihat mama menarik nafasnya. Seperti yang kuduga. Mama juga pasti berat. Tapi ini juga sebagai “sedikit” bukti yang pasti akan terus bertambah, bahwa ilmuku tak lagi NOL. Bahwa aku bukan designer baju, seperti yang mama minta.
            “Terus kalau kamu lolos seleksi? Mama bisa apa?”
            “Aku mau minta ijin, uang, dan doa restu buat ke Jakarta. Boleh ya, ma?”
Tak ada lagi yang mampu menghalangi mama untuk mengangguk selain papa. Yah itu dugaanku. Entah apa reaksi mama selanjutnya. Aku tak mampu menebaknya.
            “Kamu sendiri? Ya sudah. Kapan berangkat? Mama gak ikut nemenin ya. Sama papa kalau kamu mau. Mama ada job. Ada acara pernikahan yang meminta desain baju dari mama. Dan..”
            “Iya. Iya. Sudah. Gak papa kok. Mama ngijinin aku itu lebih dari cukup.” Jawabku menenangkan mama.
Mama tersenyum lega. Aku pun tersenyum sekalipun berat. Dukungan mama dan papa yang kuutamakan, mereka malah tak datang. Tapi, tak apalah. Mungkin ini yang seharusnya. Kuputuskan untuk berangkat sendiri.
***
            Sebelum berangkat, ku kirim surat kesekolah. Ijin untuk tidak masuk, dan mengikuti ajaran baru ditahun depan. Aku tahu ini berat. Tak ada jalan lain. Bila aku ingin ujian susulan, waktunya belum mencukupi. Jadi, selama sisa waktu yang kudapat, aku memperdalam ilmu ini sebelum aku kembali mengenyam sekolah.
            “Ma, Pa, minta doanya ya. Sampaikan ke Resty, Gilang, dan Bu Rossa. Doakan aku agar tak cepat pulang. Sehingga, aku masih terus lolos ke babak-babak berikutnya. Assalamuallaikum.”
            Mama menjawab dengan senyum yang senang.  Dan, sayang sekali, papa tak datang. Papa sedang ada acara penting-katanya-yang tak bisa ditunda. Ya, tak ada rasa penyesalan pada mereka, namun tak perlu  kusesalkan. Kini aku berada dilangit-langit menuju daratan Jakarta. Istighfar kembali kulakukan.
            “Semoga ini pilihan tepat.”
***
            “Dan inilah finalis 10 besar Bakat-Bakat Muda.”
            Tak terasa waktu berlalu. Dan aku pun melangkah dibarisan terdepan. Memimpin teman-teman seperjuanganku. Dan kini aku berdiri dipanggung ini. Karena, hari ini adalah babak penyisihan. Begitu cepat, dan tak terduga. Tapi, aku mensyukuri hadirnya hari ini.
Senangnya aku ketika menatap panggung. Mama dan Papa. Resty, sahabatku. Gilang, mantanku-yang kuputuskan saat itu-karena dia tak mampu menjalani hubungan jarak jauh. Dan Bu Rossa, wali kelas, kelas yang kutinggalkan XI IS-2.
            Mereka mendukungku. Membawa poster besar namaku beserta foto. Biasanya yang membawa benda-benda tersebut adalah penonton yang mendukungku. Diatas panggung aku menangis kecil. Aku tersenyum pada mereka. Dan, pada Allah swt, Tuhan yang mengijinkan aku disini sekarang.
            Perolehan SMS dan pujian dewan juri, membuatku mantap untuk mengasah. Ditambah dukungan teman-teman lawanku, beserta keluarga. Aku senang berada dipuncak kebahagiaan hidup, seperti ini.
Namun aku belum selesai. Aku belum juara 1. Aku belum memegang trophy dan penghargaan itu. Semoga, Tuhan juga mengijinkan aku untuk memilikinya. Sekalipun tidak, semoga masih ada kesempatan.
***
            Aku menuju tempat duduk penonton seusai aku tampil. Mendatangi bangku-bangku orang-orang tersayang. Mengecup punggung tangan Mama dan Papa.
            “Maafkan kami ya, sayang.” ujar Mama awalnya.
            “Untuk apa? Aku yang minta maaf sama mama, ninggalin mama. Ninggalin rumah. Makasih kalian udah datang.” Jawabku pada mama, yang kuanggap telah mewakili mereka.
            “Mama janji. Sampai kamu pulang, Mama nungguin kamu.”
Aku tersentak. Tuluskah ucapannya itu? Atau hanya rasa penyesalan sesaat. Sshh, mama gak mungkin kaya gitu. Mama pasti tulus. Kalaupun tidak, tidak apa buatku. Aku siap menjalani apapun. Ini memang pilihanku, dan harus aku yang menanggung.
            “Mama serius? Hidup di Jakarta itu mahal. Mama mau tidur dimana? Disini kan aku ada asrama. Ada yang ngasih makan. Mama?” tanyaku pada mama. Aku tidak mau liat mama terbaring disembarang tempat. Cuma karena aku.
            “Enggak lah, sayang. Apa guna mama ninggalin kamu selama ini? Buat kamu juga kan? Mama cari hotel kok, patungan sama papa kamu. Jadi, mama aman sayang.” Jawab mama lembut, lalu mengecup keningku.
            Aku memeluk mama, menangis. Papa terharu melihat kami. Ya Allah, terima kasih. Terima kasih banyak. Alhamdulillah. Maafkan aku yang salah menilai Mama dan Papa selama ini. Ternyata, mereka melakukan ini, juga untuk aku.
            “Apapun yang sudah mama papa lakukan buat aku. Aku cuma bisa bilang Terima Kasih Ma, Pa. Maaf, semoga besok aku bisa memberi lebih baik dari Terima Kasih ini.”  ujarku menatap mata mereka berdua  bergantian.
            “Kami juga terima kasih, kamu mau ngelakuin ini semua buat mimpi kamu. Dan.. buat kami.” jawab mama. Kulihat sinar matanya begitu bercahaya. Segumpalan air memenuhi kelopaknya. Mama jujur. Dan, tulus. Ya, aku tau itu.
            Aku peluk mereka sekali lagi. Dan menuju ke Resty, Gilang, dan Bu Rossa. Mereka pun melakukan hal yang sama. Tak pernah kusangka sebelumnya, alur hidupku bisa seperti ini.
            Teman-teman dibalik panggung menyusulku. Semua peserta telah tampil. Ini yang kutakutkan tak lama lagi. Babak Penyisihan. Apakah aku lolos? Atau ikut Bu Rossa, Gilang dan Resty pulang. Jangan. Mama udah datang. Jangan sampai aku yang pulang. Aku tak mampu sekedar menangis, bila itu yang terjadi.
Dan aku terus berdoa.
***
            Seperti hembusan angin. Langkahku mudah sekali tergoyah, ketika aku ditengah perjalanan menuju puncak. Berulang kali perolehan SMS-ku naik turun. Kumpulan puisiku juga mulai habis untuk ditampilkan. Dan aku masih belum ada semangat untuk membuatnya lagi.
            Tapi aku bersyukur. Kini aku dinyatakan pemenang. Ya, pemenang sungguhan. I get the 1st place. Dan mama dengan bangga naik ke panggung. Dan aku menangis dipeluknya.
            Mama menetapi janjinya. Dan kini mama disampingku membawa penghargaan. Dewan Juri turut terharu mengetahui kisah kami. Terutama perjuanganku hingga dititik beku ini.
            “Jadi, Gel. Apa yang mau kamu sampaikan untuk acara Bakat-Bakat Muda ini kedepannya?” tanya Om Es, pembawa acara kontes ini setiap minggunya.
            Microfon telah dihadapanku, yang masih diapit mama. Aku tak mampu berucap. Namun, memang  ada yang harus kusampaikan.
            “Lanjutkan acara ini. Dan pertahankan prestasi-prestasi generasi muda Indonesia. Cintai Sastra Indonesia. Dan perjuangkan impian dan cita-cita kalian.” ujarku akhirnya dan melanjutkan tangis sesenggukanku.
            Penonton bertepuk tangan. Beberapa dari mereka menyebutkan namaku, Gelisha Andini.
            “Jadi kamu awalnya sempet Gelisah juga ya selama ini?”
            “Mm, ya juga sih. Pokonya selama aku membawa nama ini aku akan terus merasa Gelisah. Haha. Tidak juga, sih. Buktinya aku sekarang begitu senang. Semua juga tergantung dari kita dan Yang Diatas, bagaimana Dia mengatur hidup kita, tercermin dari keseharian kita.” candaku pada wartawan ketika aku mengadakan Konferensi Pers dibelakang panggung seusai acara.
            Dan langkahku selanjutnya adalah mendaftar kembali kesekolah yang sempat kutinggalkan. Sembari menunggu Tahun Pelajaran Baru, aku akan mengasah kembali kemampuan Baca Puisiku ini, serta berbagi dan mengajarinya pada orang lain.
“Gila kamu. Gak capek apa? Ya udah deh,” ujar Gilang ketika aku meminta pendapatnya.
            Dia kakak kelasku sekarang ini, beserta Resty. Dan dia juga yang kembali menjadi kekasihku, setelah aku kembali pulang. Saat aku masuk sekolah lagi, aku akan kembali sebagai pelajar kelas 2 SMA. Tidak apa lah. Masih belum terlalu jauh untuk memulai, pikirku.
            Mama juga semakin perhatian. Juga papa. Mereka lebih banyak dirumah, dan tidak hanya  bergelut dengan handphone, tempat mereka bertemu dengan rekan kerjanya.  Aku juga mulai menuruti Mama. Sedikit demi sedikit aku belajar sebagai designer, mencoba melanjutkan usaha mama.
Dan aku benar-benar senang. Meskipun resiko mengundang kehadiran stress diotakku, karena banyaknya hal yang harus kutanggung. Bakat lahirku, usaha mama, dan sekolah. Tapi ada Mama dan Papa. Dan aku sudah tak benar-benar sendiri sekarang, disamping bersama Tuhan, Allah swt.
            Aku bersyukur. Ini kisah terindahku seumur hidup.

Semangat itu telah kembali
Menanti untuk berlanjut
Dan, terima kasih
Inilah hal yang terindah
Love mama, dan papa
                        -Gelis-